Aku mulai kesepian, aku mulai menghadapi hari dengan sunyi, dan aku mulai arungi waktu tanpa siapa-siapa
Aku harus survive sendiri, memikul tanggungan yang biasanya dibantu olehnya, kini sudah tak lagi. Aku meneruskan hidup sewajarnya hidupku dan kegiatanku sendiri.
Saat itu aku tersedu, saat itu aku merintih perih. Masih merasa belum terbiasa dengan kehilangan.
Iblis warna merah hitam mencoba menguasaiku, mencoba membujuk aku dengan perlahan dan berusaha dengan semangat 45 nya beraksi menghiburku!
Otakku kacau, kecemasanku meledak, pikiranku melayang kemana-mana. Sebentr berpikir tentang sejatinya hatiku, sebentar teringat tentang kesendirian ini. Nafasku mulai lelah mengikuti aliran darahku yang makin berat.
Aku goyahkan sebuah cutter di atas meja belajar. Dan kembali duduk di sisi tempat pembaringanku. Suasanya hening tak ada suara apapun kecuali suara music mengalun perlahan dan sendu, mendukung hasrat diotakku.
Ku tatap tajam cutter yang tajam itu. Aku segera menujulurkan tangan kiriku, menengadahkan pergelangan yang termasuk berukuran kecil. Jari-jariku mengepal, kuku yang tercat merah tua tak lagi terlihat. Warnanya berubah pucat, sepucat rautku.
Air mataku deras, bersamaan derasnya darah segar mengalir kental di luka yang kubuat sendiri. Kepalan jariku melemas, rasa sakit mulai terasa, cutter itu terjatuh tubuhku ikut terjatuh di sisi ranjang.
Mbaaakkkkk, teriak salah satu kawanku yang kebetulan segera masuk. Aku terkejut secepat mungkin menyingkirkan tanganku, kututup dengan selimut agar tak dilihatnya. Sayang, bercak darah itu mengenai sprei krem bercorak bunga. Cutter terjatuh makin membuatnya curiga dan mencoba menarik tanganku yang melemas perih.
Aku segera di bawakan obat-obatan untuk menyumpal keluarnya darah. Kepalaku pusing, mataku pedas, aku sangat lelah……
Aku tertidur ( atau pingsan aku tak begitu mengerti ) dengan tangan yang masih di bantu untuk dibalutkan obat.
Dan ketika aku terbangun semua berkumpul di sini. Kepalaku masih berat, tanganku rupanya sudah di perban, mamaku bersuara lirih membuat aku makin merasa sakit. Sesal kenapa mesti kulakukan ini?! Aku tak mau diperiksakan lebih akurat di RS. Aku mau tetap dikamar ini, ditemani serombongan kawan-kawan masa kecilku.
Bosan aku dengan kamar, aku mencoba berdiri berharap setapakku mampu mengantarku keteras depan. Dibantu serombongan kawanku, aku duduk santai di disitu, di dekat pot-pot bunga yang masih kuncup semua. Teman laki-lakiku tampaknya sedari tadi menunggu kabar berita sembari duduk di bangku depan rumah.
Disini, di teras ini, wulan(17), tyas(21), diah(21), decky(23), andhika(22), arnal(23), gatot(22), wisnu(20), berdecak tak kagum. Mereka menggelengkan kepala terheran aku senekat ini melakukan hal bodoh yang jelas-jelas itu merusak diri, bahkan dibenci Tuhan.
Satu persatu mereka menghiburku, satu persatu mereka berusaha memberiku semangat, dan satu diantara mereka memaki aku tak karuan berniat agar aku tersadar, ini adalah GILA, KONYOL!!!!
Seorang Nayami, adalah kuat, dianggap menjadi orang yang dibutuhkan ketika teman-temannya jatuh. Selalu dicari mereka apabila mereka mempunyai kesusahan, karena mereka tau Nayami selalu memberikan solusi dan pengarahan yang tepat! Kini?????
Nayami yang perlu Obat!
Tyas : “Sudah, tak usah disesali. Lanjutkan hidupmu tak perlu di berhentikan begini. Lanjutkan saja dengan yang masih ada”
Wulan : “Ini semua bisa dianggap pelajarn, tak semestinya terlalu menyalahkan diri sendiri, karena tidak sepenuhnya kesalahan kamu, kalau kehancuran ini mengantarkan kamu ke hal terbaik kenapa mesti di tolak? Anggap aja kemarin sebagai batu loncatan ke hal lebih baik dari ini”
Decky : “kalau sebuah pelajaran gagal artinya mesti belajar lebih baik, jika suatu hubungan harus terhenti anggap saja belum punya nilai yang baik jadi mesti di peljari lagi. Bagian mana yang membuat kamu gagal? Lebih baik 6 tahun berhenti sekarang dari pada nanti berhenti waktu sudah menikah. Lebih susah! Mendingan bertemu beberapa waktu tapi untuk seumur hidup. Ikuti kata hatimu. Terlalu menyalahkan diri sendiri membuat kita tak bisa maju”
Dhika : “Nay, susah membiasakan diri tanpa orang yang sudah sering bersama, apalagi masih beberapa hari begini, tapi semua ini bisa kamu atur oleh hati kamu sendiri. Yakin saja Alloh tak mungkin memberikan cobaan melebihi batas kemampuan umatnya. Sesuatu yang pahit tidak semua berartikan buruk. Siapa tau ini adalah rencanaNya yang bakal membuat kamu di antarkan ke tempat jauh lebih baik dari kemarin. Semua butuh waktu, aku juga sama dulu seperti kamu. Tapi aku masih punya kamu masih punya teman yang lain. Ga bedakan dengan kamu? Kamu masih punya aku masih punya kita-kita semua”
Diah : “mbak, belum pernah Jomblokan? Nikmati aja dulu kesendirian kamu. Temen2 benar. Kita semua bisa malah tambah dekat karena kita jadi banyak waktu tanpa tersita waktu pacaran. Kita bisa gila-gilaan lagi bareng-bareng tanpa ada yang memarahi. Biasanya kamu mesti gini, ga boleh gini, kudu begini. Yah, dengan begini kebebasan kamu kan bisa didapat. Cita-cita kamu bisa kamu raih kembali tanpa ada hambatan. Waktu yang sendiri ini bisa kamu gunakan buat intropeksi diri, tenang dan bisa kembali melakukan sesuatu yang sempat tertunda”
Arnal : “Memang termasuk gila ya kamu? Kayak begini saja sampai melukai diri. Belum tentu dia peduli. Tidak ada artinya. Sudah bagus kamu ga jadi mati. Coba mati, aku aja ogah nangisin kamu. Karena mati kamu sia-sia. Jadi sia-sia juga aku nangisin kamu. Kadang aku berpikir, benar tidak sih kamu itu Nayami yang aku kenal? Serapuh ini?? Ya Tuhan.. memalukan!!”
Wisnu : ”sudah sudah.. sini bersandar di pundakku aja mbak! Apa gini aja… tak gintung gintang intung.. weekzz ^_^ (sambil beraksi seolah menghibur anak kecil nangis minta permen)”
Aku tersenyum, dengan sisa-sisa tetes airmata. Ketika semua mengeluarkan suara, aku Cuma diam seolah seperti disidang benar-benar. Saat ini aku hanya bisa mendengarkan ocehan-ocehan positif mereka. Perutku mual, tubuhku gemetaran, pandanganku tak jelas, badanku terjatuh di pangkuan wisnu.
----------------------------------------------------------
Ketika aku membuka mata, aku berada dikursi ruang tamu rumahku, wajahku panas. Agaknya teman-temanku terlalu berlebihan memberikan balsam di hidung, pelipis, leher..
Aku dibantu duduk. Mereka mengajak aku menonton film action di rumah wulan. Agar aku merasa terhibur, mereka selalu tak pernah mendiamkan aku. Selalu tak member aku waktu melamun, sehingga lambat laun otakku merasa teralihkan.
Bebrapa harinya aku berangkat kerja, orang-orang kantor ternyata tau kalau aku sedang depresi, apalgi sampe melukai diri. Satu persatu mereka memberikan aku masukan yang benar-benar membaut aku tegar.
Ya Alloh rupanya banyak yang masih sayang dan peduli dengan aku.
Aku jadi merasa malu deangan diir sendiri, kenapa mesti melakukan penyiksaan diri….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar