Semalam langkahku tak tentu arah. Aku tau hari sudah larut malam, tapi aku tak segera pulang.
Aku terus melaju melintasi jantung kota yang masih menyisakan keramaian.
Ada pasangan yang sedang bergandengan tangan, ada pula yang berangkulan sembari menikmati segelas minuman berwarna merah darah. Ku lirik sekilas arah mobil yang terhenti di pinggiran, sepasang remaja beraksi dengan adega ciuman.
Arrggh. . . .
Aku melumat malam kelam ini cukup dengan lagu-lagu senduku, cukup aku, tak ada yang lain.
Iramanya masih berputar lirih, aku menghabiskan satu putaran nada-nada ini dengan satu putaran alun-alun yang ku lewati
Apa yang ku cari?
Tak ada, aku pikir sekedar melewati akan kutemukan setetes penghilang kepenatan yang setiap malam menggerayangi jiwaku.
Rupanya aku makin penat!
Satu persatu menghilang dariku, satu persatu lenyap tanpa suara. . . hingga kudapati diriku benar-benar sendiri. Jalanan menuju pulang tampak lengang. Aku berteriak lantang mengajukan pengaduan-pengaduan pada Tuhan, mencaci hari-hari rumit yang kerap menampar, meratapi nestapa tanpa siapa. Yang ada, terus menerus bertubi-tubi dengan pertanyaan mengapa lalu bagaimana. . .
Bagaimana ku isi kehampaan ini dengan ketegaran? Kalimat jiwaku kuletupkan dan aku menumpahkan jejalan-jejalan kata demi kata di kepala.
Meletuskan segopok hati yang sungguh-sungguh dibatas lautan emosi.
Tak ada yang mendengar, tak ada yang memandangku dengan sorot mata tajam lantaran aku seperti makhluk aneh di tengah malam.
Aku baru sadar, waktu menunjukan bahwa aku mengalami sebuah fenomena yang kusebut perubahan!
Perubahan itu terkadang mengejekku dengan topeng-topeng yang menakutkan, hingga aku betul-betul tak berani menatap walau hanya sekejap.
Hidupku berliku, dan penuh misteri, yang aku sendiri tak mampu menebak sesuatu apa yang akan terjadi.
Bila dahulu, aku menjadi dara dengan kian dihargai, didalam makna cinta.
Waktu menjanjikan perubahan,
Cinta tak lagi menghargai rasa dan asaku, semua terhenti tanpa dapat ku ahkhiri.
Sepintas tak pernah terbayangkan, sosok dara yang lalu ternyata akan mengitari hari-hari sunyi, sungguh-sungguh sendiri.
Emosiku meledak kukemas dalam kalimat, merontokkan cucuran-cucuran air mata yang mengalir hidup di sepanjang pipi, dan mati di garis bibir.
Perubahan mengajarkan aku dewasa. Tapi, haruskah untuk dewasa mesti mendaki kedukaan? Haruskah aku mengarungi arti luka, lalu layak menjadi dewasa?
Asa yang kukayuh seketika terhenti, diliputi kebimbangan, keraguan,yang bertengger angkuh di atas nama perubahan.
Satu putaran terlewati, jejakku berakhir malam ini, aku kembali pulang memagut kelelahan.
Saat terhenti diberandaku, aku sejenak menerawang sekelilingnya, kalau-kalau masih tersimpan sisa bahagia yang terselip di sudut taman, atau sekedar tergelatak di pekarangan untuk dapat kupungut.
Tapi tak kutemukan apapun, kecuali sekeping rasa perih yang kutanam di pelataran.
Terus bertahan sedikit berhenti berharap,
Tempat pembaringanku menunggu, ku setubuhi malam penatku dengan selimut tebal. Membiarkan rindu dendam di sudut gelap hati tak terjamah, hingga datang terang menjadi sebuah perubahan kembali. Hingga mata benar-benar terpejam, menyimpan sisa air mata.
Pedih itu terus melanda pada tepian jiwa yang menganga hampa, berharap indahnya mimpi kan menggeluti temaram dalam kehangatan
Rupanya benar, perubahan ini tak mudah di hati, tak mudah dihadapi,
Sampai titik rasa menjadi kata, aku masih sendiri di balik tabir luka. . .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar