mengenal arti kecil sesosok Penyair adalah orang yang tidak bahagia,karena betapa pun tinggi jiwa mereka,mereka tetap diselubungi airmata.dan mengemukakan sebuah puisi sendu dalam alunan bunga bakung.Ia adalah lagu yang muncul daripada luka yang berdarah atau mulut yang tersenyum.
Tiba-tiba aku menjadi risau dan kalut engkau akan berada di sebuah rumah dengan seseorang yang diuntungkan oleh ketampananmu, kebijaksanaanmu, dan keagungan hatimu. Sementara aku akan hidup dalam sebuah kehidupan yang penuh derita dan ketakutan. Sehingga tak kutemukan lagi kau meletakkan tanganmu di kepalaku dan jari jemarimu menyibak rambutku dengan mengelus.
Ketika itu tanganmu masih tersilang di dadaku, jemarimu masih berada di kepalaku dan membelai lembut. Aku jadi tau, elusan jari-jarimu memberi warna indah yang lebih berharga dibanding mahkota raja sekalipun. Aku lebih menyukai tanganmu.
Setelah beberapa waktu berjalan, meninggalkan detik-detik kisah mesra di tengah keramaian jiwa-jiwa, di bawah naungan malam, warna temaram mengantarkan langkah kaki kami pada kereta pribadinya. Deru mesinnya menuntun jalan pulang, semua kembali tampak menakutkan. Keindahan dan keajaiban malam ini telah berhenti kunikmati dan kini menunjukan sebuah tanda-tanda yang akan berujung perpisahan. Dan kisah serupa masih belum bisa dilukiskan akan segera terulang di musim kapan lagi. Keramaian lalu lalang, pepohonan, bulan purnama, keheningan, segala sesuatu tentangku, kecamuk perasaan jiwa antara kembali menciut dan kebungahan yang membara membakar hati, ini semua bercampur tampak menjadi sebuah prasasti yang penuh ketakutan. Musik-musik yang mengalun dalam kereta mesinnya, kini menjadi teriakan yang lebih mengerikan ketimbang auman seekor serigala.
Sekejap tenggelam dalam keheningan, aku menyelami pikirannya. Barangkali dia sedang terseok mengolah-olah apa yang ada dibenaknya. Mata hatiku tertancap tajam kealam kebisuannya. Telingaku mencoba mendengarkan detak jantungnya. Siksaan paling hebat adalah kebisuan yang sedang merajam diatas ramainya kegundahan kami. Membuat kami membatu laksana patung pualam yang terkubur gempa di bawah perut bumi. Tidak ada yang ingin mendengar kisah atau keluhan lain, karena detak jantungku sama lemah dengannya bahkan bernafaspun menjadi sulit seolah akan terasa remuk lantaran esok akan menghadapi hari-hari terpisah lama, yang sudah pada nyatanya tangan sang nasib belum berbaik menyatukan kami selamanya.
Dia merengkuh tanganku dan mengecupnya, tangannya meraih daguku dan mencuatkan tepat di hadapannya, sembari mulutnya terbuka memecah kesunyian yangsedari tadi seperti musik saxophone dimainkan begitu syahdu, “apa yang kau pikirkan, bunga alhieya”
Dibawah bintang gemintang dan rembulan, di dalam kereta mesinnya yang masih melaju perlahan. Seolah aku dan dia adalah penumpang pasangan pengantin dihantarkan pada derita siang dan siksa sang malam. Bibirku terkatup tak sedikitpun terbuka, kendati berat ingin berucap kulontarkan bisikan yang lebih menyerupai desahan kegetiran. “besok aku akan menjadi seperti hantu-hantu dan saat keterjagaan akan berubah menjadi sebuah mimpi. Apakah seorang kekasih akan merasakan kepuasan hanya dengan memeluk suatu bayangan? Atau apakah orang yang kehausan akan terobati dengan lamunan sungai?”
Kujatuhkan punggungku di tempat duduk yang nyamannya tak layak beradu dengan kedukaan ini. Aku meletakkan tanganku di belakang kepalanya, jemariku menari lembut di akarrambut hingga ujungnya. Rautnya mencerah, kelopak matanya bersinar, aku berkata dalam kebisuanku, “aku ingin engkau mencintaiku sebagai seorang penyair yang mencintai pikiran-pikirannya yang selalu sedih”
Gelombang dahsyat kalbu melicinkan bibirku yang masih tertutup menjadi terbuka. Seperti anak sungai mengalir menemukan muara pada jalan lautan.
“siapa yang akan mempercayai kisah kita ini? Siapa yang percaya bahwa kita saat ini sedang menempuh jalan setapak diantara keyakinan dan keraguan? Orang tidak akan percaya tentang kisah kita karena mereka tidak tahu bahwa cinta adalah satu-satunya bunga yang tumbuh dan mekar tanpa pertolongan musim. Lalu apakah nisan yang mempersatukan kita untuk pertama kalinya? Tidakkah kau lihat, cintaku masih tumbuh kembang tanpa kau beri tetesan air penyejuk batang dan akarnya, bahkan mahkotanya sekalipun tak retak dan gugur. Apakah tangan Tuhan yang membawa kita hingga bisa saling berdekatan saat kita belum lahir ke dunia, dan pada akhirnya meski kita dipertemukan, kita menjadi tahanan satu sama lain dalam malam dan siang kita masing-masing??”
Pada saat itu, kutarik jemariku, aku melemah disampingnya. Laju kereta mesinnya hendak memberhentikanku diujung malam beraromakan tanah sisa guyuran hujan, menambahi semaraknya malam-malam romansa. Suasana hening, dia mendegar kata-kataku seolah menelan bulat-bulat kalimatku. Dan mencari jawab dengan pikiran-pikiran filosofinya sendiri. Kemudian dia tak terima, menarik punggung tanganku dan di letakkan di kepalanya kembali. Seolah diapun tak berharap malam di ujung gelisah ini berakhir hanya dalam ini!
Jam berlalu, setiap menitnya jadi hitungan tahunan cinta.
“Jangan lupakan aku, ingatlah aku dan kenangan kita” tuturnya terbata.
Tatapan sorot kedua bola matanya berpendar sayu diiringi seulas tipis senyum yang banyak makna bila terus diperhatikan. Aku tak berani menatapnya, ngilu merasakan tak ingin berpisah dalam ruangan malam ini. Bunga-bunga cahaya rembulan, pepohonan. Membuat kami lupa akan segala kenyataan kecuali cinta. Kereta mesin berhenti diujung gang yang gelap dan mengerikan. Ketakutan berpisah itu mulai mengendap menjadi gebuan lukisan rindu-rindu yang sudah terancang untuk suatu masa kelak. Dan tak dapat diperkirakan berapa lama di persatukan dalam peraduannya kembali,
Ketika sudah tak mampu lagi menahan kata hati, meleburkan deburan hasrat tuk tetap bersama,
“tak ada alasan untuk ku dapat melupakanmu” sekenanya kujawab lirih.
Seuntai kalimat penyejuk pengharapannya, aku melihat rautnya mendekat, kami mengakhiri malam indah sekaligus mencekam itu dengan memasuki taman cinta. Menyatukan jiwa-jiwa yang dingin, berdiam saling memagut mesra di ujung lumatan bibir. . .
Sesaat aku menuruni kereta mesinnya, kutinggalkannya dengan langkah kaki lunglai, berat amat kuat. Itulah awal aku mulai mengarungi hariku dengan sendiri, seperti tetesan embun di musim dingin mulai mengering di atas cawan bunga bakung.
Jiwa-jiwa kami berada dalam langkah pisah kami. Hanya bisa memeluk kisah-kisah sendu yang di kelilingi lilin yang suram. Tengadah lirih kutatap kelam malam . .”Oh, Tuhan, yang maha agung, kasihanilah aku, ridhoi kami, demi Mu, langit bumi restui kami. Sambungkanlah sayap-sayap berdarahku yang nanar ini“