Kaki menghentak pada malam yang berubah dingin,diakhir bulan desember..
Hingga pagi berembun tak menyelipkan sinar mentari..
Mungkin pagi kelabu,,
Dara terjerembab masa percintaan yang berkaidah asmara tersembunyi
Begitukah selalunya??
Pertanyaan melenguh pada dinding hati memaksa mengoyak seisi ruangannya
Dimana palung jiwa menggetarkan isyarat ingin meledak
Dara berpaling dengan sendu di seonggok hati yang terbungkam tanpa kata…tanpa nada…
Bahkan tanpa intonasi yang berucapkan kalimat “ingin mencinta”
Tatapannya menatap cakrawala jiwa yang tak ingin mencinta..
mungkin ingin…….
Tapi..bunga bakung di malam temaram tak pernah haturkan wangi pengabdian yang
Mengartikan bahwa,, “dara bukan untukmu”
Raga itu menjauh hingga perpeluh..
Raga itu memudar dengan tarian-tarian kekejaman gejolak mudanya
Hingga terbelit suatu rasa bahwa dia harus berbalik arah ,pergi,menjauh dan berharap kosong
Atas perasaan dara….
Tanpa kedipan sesaat dara melihat,,begitu terhentak sadar semuanya menjadi hilang..
Titikan air disudut mata seorang dara adalah kalimat yang tak terucap,
Biarkan raga itu sebentar pergi….gumpalan jiwa itu masih diujung jari
Hingga berakhir nafas tersendat,,jiwa itu masih ada dijemari…
Tak peduli menjadi beku…….
Dara masih disini,dengan sesuatu yang tak pernah ia mengerti,
Celah hatinya masih menyisa ..
Diujung lelah…disudut malam menjulang
Jiwa dan raga itu tak kan pernah habis dimengerti…
Bahkan oleh sebatas hati seorang dara…….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar