Awan berarak menutup mentari pagi ini
Dalam satu hal yang tak pernah dimengerti pasti..
Aku tak ingin mendengarkannya, aku tak
Berharap melihatnya..
Aku ingin berbalik arah.. berlari dan terus berlari
Tapi.. apakah aku seolah menjadi gadis layaknya sedang berpura-pura tuli?
Semua sekelilingku diam, semuanya tampak menjadi nanar,
Dan disudut kepingan hati ada luka yang mengering..
Masih berbekas,
Bukan dia yang melukai, bukan sesiapun yang menggores
Hanya waktu, dan sang alam menjadikannya indah dalam luka..
Aku membisu, Dia makin diam membatu..bagai patung putih yang terguyur air hujan
Sampai kapan begini?
Lagi-lagi Tanya itu, membosankan sisi gelap hatiku
Aku tauuu,,
Aku tak bisa berharap maju walau hanya selangkah dalam detik sisa hidupku
Dan akupun sangat tauuu,,
Akupun tak mampu mundur walau hanya sejengkal untuk beberapa saat
Cahaya malam kini berpendar…
Seiring denyut nadiku yang melemah, sebanding detak jantungku yang mulai tak terdengar mengiramakan suara-suara namanya..
Biar saja, aku kemasi segala perkakasnya
seulas senyum dan sebingkai muka yang sebengis kematian ..
Aku bergegas ambil langkah sendu, membuang segala sesuatu
yang porakporanda,
dalam tepian hati suram kubuang makna arti cinta terlarang ….
Biarkan, biarkan saja tertelan samudera waktu yang mengering
Hingga aku berjalan, tertunduk lemas, menatap bingar pada cakrawala hampa,
Bahwa aku gagal untuk memulai,,
lalu bagaimana mungkin dapat aku akhiri…………..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar