Senin, 31 Mei 2010

sampai kau bicara

Selepas dari sholat malamku, aku hendak merapatkan mata yang menyisakan tetesan-tetesan air. Isakku telah terhenti kuakhiri di tempat pembaringanku. Kupasang headset di telinga sambil terus mencoba kembali memejam.

Terbangun di pagi hari kudapati musik yang kudengar terhenti. Ketika kulihat rupanya ada pesan yang menggantung. Kubaca isinya, dan aku mengerti. aku begitu senang. . .

Mungkin ini jawaban dari kebisuannya yang memasung lelah dibenakku. Barangkali pula ini adalah jawaban dari ratapanku di tiap malam buta. Seketika pesan yang menggantung masuk terbuka, music kembali mengalun. Masih ku dengar melalui headset yang terpasang di daun telingaku, menelusup dari liang, gendangnya bergetar mengalun nada lembut. .

Terimakasih Cinta untuk segalanya, kau berikan lagi kesempatan itu . . .

Senyumku mengembang di pagi hari, air mataku meleleh hidup di permukaan pipi, dan mati di garis bibir.. hatiku tenang, ada kelegaan yang luar biasa ku rasa. Kusadari subuh kulewati dengan terpaku.

Segera bergegas ambil air wudhu, bersujud syukur atas nikmat yang di beri. Ini adalah hasil dari penantianku yang terus terbelit lelah dan resah. . . meski langkahku belum puas hanya terhenti sekedar dalam ini. . .


♥♥


Jumat, 14 Mei 2010

romansa cinta

Alam mencurahkan warna kelam

Di sepanjang kerlipan mata yang masih terjaga

Irama hujan terus berderai menyempurnakan keheningan temaram ini

Bibirku mengatup tanpa suara

Bahkan tak kukeluarkan walau selembut bisikan

Dalam bisu, hati bergemuruh,

Riuh. . .

Tak mampu kukendalikan, hanya dengan teriakan kosong

“Cukup!”

Arrrrgghhhh lagi-lagi penat lebih dulu

Dan mendahului otakku yang hendak melaju kepermukaan,

Demi meniti kesabaran dengan jiwa sadarku

Tubuhku lelah serupa lelahnya hatiku

Langkahku hilang arah, hanya berjalan menelusuri setapak yang mulai tak terlihat

Otakku gerah,


Namun. . . detik yang kupunya kujamah

Tanpa kutinggal kalimat menyerah!

Ini bukan pertandingan, bukan pula perlombaan

Bagiku, aku tidak kalah dan harus berhenti mengayuh rasa bersama pasrah


Rerintikan di luar makin bergemericik

Seolah ikut mengartikan romansa cintaku

Dalam nada yang mengalun sendu

Jendelaku terbuka separoh,

Kusandarkan tubuhku di tepinya yang menganga


Ada fikiran yang terus melayang

Melambungkan khayal panjang yang kian lama,,

Kian belum terwujud!

Balada hatiku memaki

“berhentiii!!!”

Sontak aku terkejut

Aku berdiri lalu jalan perlahan

Sorot mataku letih, tapi belum mampu terpejam

Bayangan itu!!

Sialan!

Bukan, bukan sialan!

Bajingan?!

Hust! Bukan!

Sosok pria pujaan! Terus mengikuti setiap ketipan kelopak mataku

Sayang!!

Dia hanya sebatas berani menggelitik kelopak mataku&bola mataku

Dia hanya berani, seakan merasa gagah sekedar berhenti diujung ekor mataku

Seolah dia mendadak menjadi terpopuler dalam romansa cintaku

Lantaran pagi, siang, sore dan malam

mampu meruntuhkan segala detak jantung dan nadi ini

tanpa harus berdiri bukan ilusi didepan tubuhku


mungkin saja aku tak tahu siapa gerangan sosoknya

aku belum mengenalnya dengan sempurna, tetapi. . .

bukan harus mengenalnya dengan sempurna,

bukan harus dirinya adalah sempurna

lalu begitu mudahnya untuk dikagumi dan dicintai oleh bunga

bernama Alhieya

suara ku terjerat, berhenti dikerongkong dan

kalimat tertahan diujung guratan bibir

tak mampu meledakkan kata yang menanda arti telah melemah

bosan dengan raga yang mencoba berlari sendiri, berusaha sendiri


sepertiga malam berayun kedepan, menjilati nuansa sunyi

dibalik jendela biru muda

tirai itu melambai sewajah dengan lambaian dedaunan yang kuyup

tulang-tulangku menggigil dingin, gigiku bergelatuk

dan sendi-sendi tubuhku mulai rapuh.

Segi empat tempat pembaringanku mencoba membelai manja,

Selimut tebal melumat rebahanku dan mulai bersetubuh dengan mimpi

Nafasku terengah menikmati perih sendiri. Hanya sendiri


Rasa itu,

hasrat itu,

gebuan itu,

candu rindu itu,

gairah itu,

hangat kecup itu,

kemesraan itu,

cumbuan itu,

semua tentang rasa cinta

menyatu, bergumul dalam jiwaku

hanya aku yang rasa, bukan dia. . .

Ah,,,,

menemukanmu dalam terlambat

Sudahlah Virgo Aku sudah keliru, Aku tak mau dugaanku menjadi salahpaham, menanggapi ucapanmu yg semestinya hanyalah ilusi untuk ku....