Selasa, 04 Mei 2010

aktualisasi diri

Dalam sebuah teori tentang kebutuhan manusia yang disusun oleh Maslow, ia memberikan tingkatan kebutuhan sebagai berikut : pertama, kebutuhan fisiologis. Kedua, kebutuhan rasa aman. Ketiga, kebutuhan sosial. Keempat, kebutuhan status. Kelima, kebutuhan aktualisasi diri. Kalau aku melihat, sebenarnya kebutuhan kedua sampai kelima adalah satu, yaitu kenyamanan. Seseorang tinggal di rumah biar aman karena ingin nyaman. Seseorang berhubungan dengan orang lain juga karena ingin nyaman. Seseorang yang ingin mengaktualisasikan dirinya supaya menjadi apa yang dia inginkan, juga karena ingin nyaman.

Dalam teori kebutuhan ini, kita masih diajak untuk bergelut dengan kenyamanan diri. Sedangkan kebutuhan fisiologis, kebutuhan dasar manusia terdiri dari dua, yaitu mengisi perut dan seks. Secara garis besar, apa yang dikemukakan Maslow hanya ada tiga bagian dasar, yaitu kebutuhan makan dan minum, kebutuhan seks, dan kebutuhan akan Nyman.

Kalau hanya itu, apa bedanya kita dengan binatang? Binatang juga mempunyai kebutuhan-kebutuhan itu. Ia ingin makan dan minum, melakukan seks dan juga mencari kenyamanan diri. Kemandirian untuk menuju kesejatian, itulah yang belum dilakukan oleh binatang. Kita bisa melakukan lebih dari sekedar kebutuhan akan rasa nyaman, lebih dari sekedar aktualisai diri. Aktualisasi diri hanyalah awal dari perjalanan belajar di Fakultas Kehidupan ini.

Aktualisasi diri, menjadi apa yang kita inginkan, kadang ditempatkan paling atas dalam sebuah tingkatan kebutuhan. Seolah setelah aktualisasi diri sudah tidak ada lagi yang akan kita lakukan. Kita terjebak di sini. Kita terjebak oleh permainan ego kita yang ingin dipuaskan. Bukankah kita ingin mengaktualisasikan diri itu lebih didorong oleh betapa inginnya kita untuk dianggap ‘ada’ di masyarakat? Kita ingin menjadi apa yang kita inginkan, melakukan apa yang kita lakukan, yang semuanya itu didorong oleh keinginan untuk merasa nyaman.

Kebijakan timur yang agung, realisasi diri ini bukanlah mengejar untuk menjadi apa yang kita inginkan. Bukan merealisasikan keinginan diri, namun mengekspresikan cinta dari dalam diri. Cinta dari dalam diri bukanlah produk kenyamanan. Untuk menggapai sebuah kenyamanan, masih memperhitungkan untung dan rugi. Sedangkan ekspresi cinta dari diri tidak memperhitungkan untung dan rugi. Jadi, aktualisasi diri yang masih memperhitungkan untung dan rugi masih merupakan produk kenyamanan.

Aktualisasi diri, dengan menjadi apa yang kita inginkan, adalah sumber ketidaknyamanan, bukan menggapai kenyamanan. Diri yang identik dengan badan, pikiran, dan keinginan sangat berhubungan erat dengan keterikatan kita terhadap sesama dan lingkungan.

Jika direnungkan bersama, apa sih yang kita lakukan, apa yang ingin kita gapai, apa yang ingin kita aktualisasikan, sebenarnya adalah apa yang ingin kita dapatkan dari orang lain. Dengan demikian, kenyamanan yang kita dapatkan adalah kenyamanan yang tergantung kepada sesuatu. Bagaimana kalau sesuatu itu kemudian jauh dari kita, menghilang, lari dari kita, apakah kenyamanan itu juga hilang?? Kalau demikian hanlnya, dimana kemandirian yang terlepas dari ketergantungan?

Ketergantungan kita adalah sumber ketidaknyamanan diri. Kita telah dikondisikan dengan hal-hal yang akan menyamankan kita. Kenyamanan yang kita dapatkan adalah kenyamanan semu yang tergantung kepada sesuatu. Apabila sesuatu itu tidak sesuai dengan kita harapkan, seperti keterkondisikan kita, maka kita akan kecewa dan merasa tidak nyaman.

Aktualisasi diri tidak ada hubungannya dengan aktivitas fisik, tidak ada hubungannya dengan apa yang kita lakukan. Tetapi, kepada rasa cinta dalam diri kita. Bagaimana mengaktualisasikan cinta dalam diri sehingga ia bisa mengalir keluar, itulah aktualisasi diri yang lebih dalam daripada sekedar menjadi apa yang kita inginkan.

Kita tergantung kepada kehadiran seseorang. Kemudian yang terjadi secara sadar atau tidak adalah kita mengharapkan kehadirannya. Apabila tidak ada yang hadir dihadapan kita, kita akan mulai merasa tidak nyaman. Akibatnya kemudian adalah munculnya rasa takut. Takut kehilangan, takut penolakan dan takut disingkirkan. Kenyamanan kita terjadi atas dasar tergantung dan keharusan saling member. “aku memberimu kenyamanan, maka kamu harus memberiku uang” sebatas itu!?

Kemandirian adalah tidak adanya rasa takut. Kesejatian adalah bagaimana kita melihat setiap peristiwa sebagaimana adanya. Bila ada kemandirian, maka tidak ada keharausan, tidak ada tuntutnan dan tidak ada ketergantungan. Disanalah kenyamanan terjadi! Kenyamanan dalam diri kita adalah rasa cinta. Kenyamanan yang didasari atas dasar cinta, terdengar alunan simfoni indah, itulah irama kehidupan.

Irama itu adalah momen dan proses kehidupan. Mengerti dan bisa mendengarkan irama simfoni itu merupakan salah satu mata pelajaran di fakultas kehidupan ini. Kenyamanan kita bukan atas dasar kehadiran orang lain, melainkan dari lagu yang dimainkan saat bersama orang lain. Saat kebersamaan itulah yang kita nikmati. Kemudian saat orang lain pergi meninggalkan kita, hal itu tidak akan mengurangi kenyamanan yang kita rasakan. Kita akan mendengarkan simfoni yang dibawakan oleh yang lain, bahkan kemudian saat kita sendiri pun, kita masih bisa mendengarkan simfoni itu, sebuah lagu yang tetap terdengar karena lagu itupun berasal dari diri kita sendiri.

Jadi apa yang ditakuti? aPabila kenyamanan itu mengalir dari diri kita tanpa keharusan dan tanpa ketergantungan. Dengan kenyamanan seperti itu, tidak ada yang akan lari, tidak akan ada yang menolak. Yang terjadi adalah seperti magnet yang kuat. Ia akan semakin menarik orang dan lebih banyak orang yang akan datang. Mereka datang bukan untuk apa-apa melainkan hanya ingin bermandikan kenyamanan yang meluap-meluap. Itulah aktualisasi diri, yakin menjadi magnet cinta yang kuat.

Tidak ada komentar:

menemukanmu dalam terlambat

Sudahlah Virgo Aku sudah keliru, Aku tak mau dugaanku menjadi salahpaham, menanggapi ucapanmu yg semestinya hanyalah ilusi untuk ku....