Alam mencurahkan warna kelam
Di sepanjang kerlipan mata yang masih terjaga
Irama hujan terus berderai menyempurnakan keheningan temaram ini
Bibirku mengatup tanpa suara
Bahkan tak kukeluarkan walau selembut bisikan
Dalam bisu, hati bergemuruh,
Riuh. . .
Tak mampu kukendalikan, hanya dengan teriakan kosong
“Cukup!”
Arrrrgghhhh lagi-lagi penat lebih dulu
Dan mendahului otakku yang hendak melaju kepermukaan,
Demi meniti kesabaran dengan jiwa sadarku
Tubuhku lelah serupa lelahnya hatiku
Langkahku hilang arah, hanya berjalan menelusuri setapak yang mulai tak terlihat
Otakku gerah,
Namun. . . detik yang kupunya kujamah
Tanpa kutinggal kalimat menyerah!
Ini bukan pertandingan, bukan pula perlombaan
Bagiku, aku tidak kalah dan harus berhenti mengayuh rasa bersama pasrah
Rerintikan di luar makin bergemericik
Seolah ikut mengartikan romansa cintaku
Dalam nada yang mengalun sendu
Jendelaku terbuka separoh,
Kusandarkan tubuhku di tepinya yang menganga
Ada fikiran yang terus melayang
Melambungkan khayal panjang yang kian lama,,
Kian belum terwujud!
Balada hatiku memaki
“berhentiii!!!”
Sontak aku terkejut
Aku berdiri lalu jalan perlahan
Sorot mataku letih, tapi belum mampu terpejam
Bayangan itu!!
Sialan!
Bukan, bukan sialan!
Bajingan?!
Hust! Bukan!
Sosok pria pujaan! Terus mengikuti setiap ketipan kelopak mataku
Sayang!!
Dia hanya sebatas berani menggelitik kelopak mataku&bola mataku
Dia hanya berani, seakan merasa gagah sekedar berhenti diujung ekor mataku
Seolah dia mendadak menjadi terpopuler dalam romansa cintaku
Lantaran pagi, siang, sore dan malam
mampu meruntuhkan segala detak jantung dan nadi ini
tanpa harus berdiri bukan ilusi didepan tubuhku
mungkin saja aku tak tahu siapa gerangan sosoknya
aku belum mengenalnya dengan sempurna, tetapi. . .
bukan harus mengenalnya dengan sempurna,
bukan harus dirinya adalah sempurna
lalu begitu mudahnya untuk dikagumi dan dicintai oleh bunga
bernama Alhieya
suara ku terjerat, berhenti dikerongkong dan
kalimat tertahan diujung guratan bibir
tak mampu meledakkan kata yang menanda arti telah melemah
bosan dengan raga yang mencoba berlari sendiri, berusaha sendiri
sepertiga malam berayun kedepan, menjilati nuansa sunyi
dibalik jendela biru muda
tirai itu melambai sewajah dengan lambaian dedaunan yang kuyup
tulang-tulangku menggigil dingin, gigiku bergelatuk
dan sendi-sendi tubuhku mulai rapuh.
Segi empat tempat pembaringanku mencoba membelai manja,
Selimut tebal melumat rebahanku dan mulai bersetubuh dengan mimpi
Nafasku terengah menikmati perih sendiri. Hanya sendiri
Rasa itu,
hasrat itu,
gebuan itu,
candu rindu itu,
gairah itu,
hangat kecup itu,
kemesraan itu,
cumbuan itu,
semua tentang rasa cinta
menyatu, bergumul dalam jiwaku
hanya aku yang rasa, bukan dia. . .
Ah,,,,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar