Aku tidak pernah membayangkan tentang hidup detik ini yang kualami
Berbicara tentang rasa, bahkan hati ini telah mati rasa. . .
-------------------------------------00000000000000000000------------------------------------
Pukul 11.00 PM
Aku mengemasi semua barang-barangku, untuk kupersiapkan perjalanan pulang.
Hanya 2 pasang headset kecil yang menghibur saat dalam perjalananku
Aku merasa mempunyai teman baru.
Hamparan jalan yang kulalui adalah kawan itu.
Pohon-pohon menjulang dengan kebisuannya.
Lampu-lampu temaram kota tampak meredup.
Sudah tak ada hiruk piruk orang-orang kecuali beberapa orang yang telah begitu jauh
Dari pandang hingga kudapati bentuknya menyerupai benda setitik.
Jalanan yang lengang, serupa dengan luruh heningnya hatiku yang bernada sunyi.
Hingga kini, aku menjadi terbiasa dengan sepi.
Aku tidak lagi melakukan pengaduan pada tuhan,
tentang betapa kesepiannya aku Seperti hari yang lalu.
Mungkin Tuhan bosan dengan teriakanku yang masih sellau sama.
Oh, tuhan telah menghadirkan seseorang yang tka kharapkan
Sesosok anak manusia yang telah sekian lama kubuang masalah dan masa lalu.
Aku dipertemukan olehnya dengna keadaan yang berbeda.
Yang kurasa, seperti sedang membuka tulisan-tulisanku yang lalu.
1000 kenangan tumpah di waktu yanga salah. . .
Kenangan itu telah tertumpuk masa-masa indahnya yang baru
Kenangan yang tersapu oleh harapan-harapanku yang baru
Sudah tka ada tempat untuk merajut asa yang sempat tertindih getir
Khayalku terhenti. . .
Tentang seseorang,
Langkahku terhanyut menuju dekapnya, saat tersadar,
Rupanya aku tidak benar-benar mengerti tentang geraknya
Hingga asa menjadi rasa yang mati. Aku masih berdiri dengan kaki yang bergemetar
Selalu berputar antara mencari keteduhan jalan terus atau jalan keluar
Lukaku kembali perih, tatkala kusirami dengan air mata.
Sang waktu telah kuundang untuk segera menentukan tawaku.
Selebihnya, saat ini aku laksana bunga yang terbuang. . .
Malam ini aku tiba di jantung kota.
Seperti biasa, tanpa siapa dan apa
Bahkan tujuan tiada keinginan pun tak ada.
Separoh jalan basah, sisa guyuran air hujan yang meludahi bumi
Aromanya semerbak, alami. . .
Pusat kota itu, seketika berubah mengerikan saat satwa tak bersahabat dengan
Kehadiranku di atas malam.
Keindahannya seolah siap menerkamku bulat-bulat
Dan hendak melenyapkan aku dan rasaku dari raut bumu yang tka bertepi ini
Membuatku ingin segera berlari dan berlari sampai di berandaku.
Tak ada kedamaian kecuali sepi itu masih ada ramai meriuh berkecamuk
Ditengah kalbu
Aku lelah melulu mengecap bahagia semu
Beringsut saja dalam bilik.
Aku rindu, seperti telah bertahun-tahun tak ku setubuhi ruangan ini
Kuletakkan beban di pembaringanku, dan kembali kupagut kata yang terus menyiksa.
Penghujung malam, meledakkan rasa yang ku bingkai dalam kata.
Hanya kemampuan itu yang masih tersisa di sela-sela sisa hembusan nafasku. . .
Berharap kantuk menggirngku pada mimpi
Agar aku bias merasakan, bagaimana jika sejenak bersembunyi dari realita. .. !!?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar