Minggu, 01 Agustus 2010

bos Songong

Ada sedikit rasa tertegun, bercampur luka yang menyinggung dari sekecap ucap kata seorang Pria, dimana orang menyebut big bos.

Gila! Secara tak langsung jelas dia sama halnya menghinaku. Entah, barangkali saja dia menyindirku di depan para merketing yang pada dasarnya mereka semua tak mengerti apa yang di ucapkan Pria songong itu.

Apa yang dia ucapkan tak ubahnya seperti berbicara dengan kacung apa arti orang-orang yang duduk di lingkaran meja panjang itu?

Pria, wanita. . . dengan dandanan modis, berdasi, dan berjas, mereka rupawan. Apalagi ketika aku pertama kali bertemu dan berkenalan dengan mereka. Terutama marketing wanita, aku tak mampu menandingi mereka. Mereka tinggi semampai, berkulit putih bersih, ada pula yang kuning langsat bersinar menandakan kerap di rawat. Dandanan mereka tajam dan lihai. Terlihat dari eyeshadow yang di pulaskan di kelopak matanya begitu teratur dengan dikombinasi eyeliner dan maskara yang elok.

“Kalau aku sekedar memakai acak-acakan aku juga bisa” pikirku

Tapi tentu mereka tak sembarangan. Merk yang dibelinyapun make up mahal. Aku tau kalau itu. Sedang aku cukup memakai biasa saja sesuai kantong mahasiswi.

Mereka begitu tampak elegan tapi tetap mencitrakan rona kemewahan. Saat itu. . !!

Kini, tak ada bedanya, ketika aku duduk di kursi dari meja panjang dalam rngka meeting mingguan.

Para SPG, Markeirng,supervisor, dan staff yang besangkutan dalam pembuatan surat penjualan kendaraan ( SPK ) dengan pemimpinnya. Manager cabang yang secara fisik, dia gagah, putih, sedikit tampan, tinggi dan berdada bidang dengan gaya rambut spike. Dia orang Jawa!

Secara profesional, dia motivator, pembicara handal ( tentu dalam bidangnya). Keras, dan mempunyai suara lantang menambah sempurnanya apabila sedang memberi sindiran pada bawahannya.

Ini dunia marketing, penuh tantangan, penuh tekanan. Begitulah halnya yang kita tau.

“Astaga!” Rupananya aku masuk dunia marketing lagi. Lagi dan lagi. Alu sudah 3x ini menelusurinya, kerap lelah, sedikit bangga jika berhasil. Paradigmaku, bukan hal yang rusak, memalukan, atau predikat kotor lainnya.

Bukan!

Tapi sungguh bidang ini kurang menarik jiwaku. Kalaupun aku mampu, tapi aku tak bisa jatuh hati pada profesi ini. Menurutku, aku Cuma SPG. Setahuku, hanya penjualan promosi, bukan ‘kudu’ menjualkan dengan jeratan target dan deadline.

Rupanya aku, ida, puput sebagai SPG yang akan di juruskan dengan sekali sabetan kearah marketing, sesuai dengan orang-orang yang sekarang berada di meja panjang ini.

Air mukaku yang menegang sedikit mencair, tatkala supervisorku di pertanyakan tentang prospek dan proses penjualan berapa unit yang di buahkan diriku.

“mantap” gali terus Rud, anak buahmu di pameran. Arahkan pada SPK. Bulan depan harus lebih dari ini. Sudah bagus buat Lia, tapi percuma kalau tidak ada kemajuannya, apalagi bercabang kemana-mana kerjanya, pake kuliah lagi. Ingat, kuliahpun gak menjamin kita bisa sukses!”

“sial!” lenguhku dalam hati, umpatanku tak habis berhenti di kata sial, sial, sial. . .

Dia meremehkan aku, lagaknya udah kayak orang terkaya saja seindonesia. Pake nanya kasar lagi pada pak Rudi. Pak Rudikan baik, sabar. Kadang aku tak tega melihat beliau di cerocosin kasar.

Orang muda itu. Ya, ya, ya, dia punya skill, dia mampu dan ahli. Tapi sayang, tak punya hati dengan sesama. Tak punya rasa lemah lembut sebagai pemimpin. Kulirik sepintas sebelahku, mbak wika namanya. Secara pandang mata, nyaris sempurna tanpa cacat. Aroma wanginya menggugahku dalan kantuk di ruangan meeting kali ini.

“segment mana yang mau kamu telusuri, wik?” tanya pria songong itu yang kerap dipanggil pak Ruhsam. Kalimatnya syahdu, lumayan lembut.

Tumben! Pikirku. . .

Apa lantaran, mbak wika cantik dan anggun?

“saya tinggal DO (delivery order) ke Jepara, pak”

“oh, menyelesaikan SPK kemarin? Disempurnakan ya buat hari ini. Kalau kamu, luthfi??!”

“3 unit, pak. Nanti janjian buat ngasih tanda jadi”

“semua aplikasi lengkap?”

“tinggal KTP asli, pak. Kemarin saya mau minta, tapi pas kebetulan beliau mau check in hotel”

“yah, gali itu juga. Pendekatan informal, lut. Bilang saja, ‘pak, kalau suka main perempuan, berarti kebetulan sama dengan pak Ruhsam. Dia juga suka main perempuan, ajak-ajak pak Ruhsam biar di perkenalkan perempuan-perempuan hot lainnya’. Begitu, lut cara pendekatannya”

“siap, pak” Lutfhi menjawab dengan menunduk malu barngkali mendengar cara yang dikemukakan si Ruhsam songong itu

Semua marketing, perempuan terutama. . . saling berpandangan seolah mata-mata mereka sedang bergosip lirih saling bergumam tak kaget, pemimpinnya memang ‘doyan’ permpuan.

Bla. . bla. . bla. . aku tak menghiraukan ocehan-ocehan yang disebut ilmu marketing. Perusahaan tanpa marketing memang tak akan bisa jalan. Karena memang profesi ini pemegang kendali pemasaran dan promosi sebuah perusahaan untuk di terima target. Marketing tanpa prospektingpun akan kering. Tidak heran sabetan orang lapangan, khususnya marketing sangat tidak tanggung-tanggung. Apalagi jika productnya adalah barang besar, mewah, berkelas, atau setidaknya jasa yang sangat dibutuhkan perusahan lain. Sudah mengerti aku. Hanya saja, aku eneg dan muak harus terus menerus menyuntik telingaku dengan komentar-komentar munafiknya. Semua tahu, bahkan aku, yang masih beberapa minggu bergabung di perusahaan besar ini. Tahu tentang kebiasaan tabiat pemimpin itu. Begitu, masih bias bawa-bawa nama tuhan dijadikan topeng agar dinilai tentang kebijakannya.

Sungguh! Pesan-pesan dia tentang itu, tidak cocok dengan perangainya yang benar-benar menilai dan menganggap wanita itu rendah. Seolah wanita itu adalah barang remeh yang mudah ditipu untuk sekedar menjadi “rencang bobo”

Dia merasa kelasnya tinggi, berduit, mampu membeli apapun bahkan wanita sekalipun yang molek melebihi bidadari surga. Pikirku. . .

“buat apa itu semua? Jelas dia bakal dianggap tidak bias memuaskan cewek!” ingat seorang kawanku pernah berceletuk geram tentangnya. Ketika itu, SPG-SPG termasuk aku nimbrung membicarakan big bos.

“kenapa begitu?” tanyaku iseng. Karena sebetulnya lebih baik aku mengisi waktu luangku dengan membaca novel Kahlil Gibran, ketimbang ngomongin pak Ruhsam yang tidak pernah ada menrik-menariknya sama sekali, menurutku!

“ya iyalah Lia, ‘punya’ dia itukan kecil.. banget. Segini aja nggak ada!” tutur Puput menggebu sambil memperagakan bentuk lingkaran yang diucap ‘kecil’ tadi dengan telunjuk dan ibu jarinya pada ujung staples, menambahi keyakinan orang yang mendengarkan tentang yang diucapnya memang betul.

“maksudmu?? Hahahha” aku mulai tertarik, tergelitik dengan tema kali ini. Novelku kututup dan Puput bercerita dari sabang sampai merauke. . .

WHATDECROT ????gilllaa!!!! ini bener-bener gila!!

Pemimpin apaan ini? Melakukan ‘prospek’ cinta pada bawahan baru. Rupanya bukan sekedar Puput, Ida, ternyata mbak Wika yang marketingpun bahkan pernah sampai. . . . tiiiiiiiiiiiiiitttttttttt

“itu dia, Li. . . kamu nggak taukan seperti apa dia? Dia tuh nyaris ngajak aku. . .” kalimat Puput terputus ketika Pak Ruhsam waktu itu melewati kami.

“ML?” lanjutku

“Mbak Lia aja ya yang bener-bener bersih. Belum pernah kena dia, kalau gitu kamu kerjain dia aja mbak” pinta Ida.

“ What de fucking hell. . .hahahhah . . .nggak ah. Ogah, nggak minat aku, orang kata Puput, diakan kecil. . .!!!” sahutku bergurau nyantai sambil menirukan gaya Puput tadi.

Cekakakkaka, wakakakkakak, hahhaaah. . .

Suara kami riuh, kembali si hidung belang berdasi lewat. Ida dan Puput merunduk. Aku mendongakkan kepala menatapnya sengaja tajam dengan tampang sinis kuberanikan diri. . .

“Okke!!! Ada pertanyaan??”

Suara itu membuyarkan lamunanku tentang beberapa hari yang lalu bersama Puput dan Ida. Rupanya pak Ruhsam mau menutup meeting siang ini.

“coba ya, ini sudah akan akhir bulan. Selesaikan proyek kalian, jangan sekedar berbicara kosong. Saya tidak suka. Kita bukan sastrawan. Kalau sastrawan itu PENIPU! Banyak omong kosong tak bermakna!! Sama seperti para pujangga atau penyair. Omongan mereka tak menghasilkan uang!!”

DDUUAARR!!

Brengsek!! Aku makin melotot. Mataku menatap geraknya yang angkuh dengan tatapan hendak muntah di ubun-ubunnya. Berani-beraninya dia sebut-sebut nama itu semua dengan menghina dan menghujatnya. Sungguh demi Allah! Aku sakit hati banget. Dia nggak pernah apa ditampar uang para sastrawan yang kata demi katanya dapat merajut segepok buku terkenal? Kupikir justru cara dialah yang menipu banyak orang! Setidaknya sastrawan membuat karya bisa dengan menciptakan cerita, dan itu tidak menipu siapa saja yang membacanya.

Brengsek. . .

Hobi menulisku secara tak langsung di bawa-bawa olehnya.

Ruhsam! Kupikir aku bisa buat sedikit menghormatinya. Tidak seperti mereka-mereka yang telah kamu sentuh dan nodai.

Tapi dengan kamu mencerca seperti ini, hatiku merasa lebih ternoda daripada mereka. Aku bisa berbalik lebih tidak menghormatimu. Umpat hatiku berkecamuk penuh amarah.

Beberapa hari Custamer datang mengambil barang inden yang telah lama di pesan. Akan tetapi dia ingin bertemu atas nama SPG Lia. Itu aku, barangkali aku mau ketiban rejeki. Heeeuummm. . .

Rupanya benar, meski aku tidak mendapat sereceh rupiah yang dalam jumlah besar, setidaknya, customer telah membawa kartu namaku yang pada umumnya, jika tertera namaku, akulah yang berhak mendapat tip darinya.

Dan ketika itu, aku tak ada di tempat. Aku sedang berada di pameran. Big bos menyuruh untuk menitipkan tip itu kepadanya, agar di masukan ke transferan gaji. Tentu, customer tersebut tak mau. Dia akhirnya berbincang sedikit pada Pak Ruhsam. Bahwa ingin bertemu aku langsung sambil barter sebuah buku dan ingin berdiskusi kepadaku tentang ilmu menulisnya dan ciri khas penulisanku.

Mampus Lu. . .

Pikirku, orang sekaya Pak Agung Webe, pebisnis sekaligus mantan pramugara. Tidak sesongong itu. Dan tetap menghargai tulisan anak bangsa.

Tulisankukan melahirkan sebuah kalimat demi kalimat. Apa aku seorang penyair? Tentunya kuanggap iyalah, penyair diri sendiri, meski tak selihai Kahlil Gibran. Setidaknya suara hatiku yang kutuang dalam bentuk tulisan adalah syair-syair jiwa pribadi.

Hahahhhah

Big Bos tercengang!

Tidak ada komentar:

menemukanmu dalam terlambat

Sudahlah Virgo Aku sudah keliru, Aku tak mau dugaanku menjadi salahpaham, menanggapi ucapanmu yg semestinya hanyalah ilusi untuk ku....