Kamis, 21 Oktober 2010

God, listen

Tidak bisa kukatakan dengan indah,

Karena rona ini masih memancarkan luka yang menganga.

Sesuatu yang tertunda kembali menyeruakan warna meski sekarang telah kembali memudar. . .

Dia, memaksaku untuk tak lagi berharap

Dia,memaksaku untuk memilih melangkah, beranjak dari sisinya

Dia, memaksaku untuk tak memulihnya

Jika harus ada luka, biar saja hanya aku yang merasa. . .

Aku tak sanggup mencipta luka, aku tak mampu menggoreskan perih

Tuhan berkehendak beda, aku selalu ada menjadi bagian mereka.

Entah. . ..

Inikah langkah semestinya aku?

Memilih untuk di taburi perih, atau

Sejenak meninggalkan onak

Separuh janji itu masih terngiang, suaranya memaknai seluruh darah yang berdersir.

Jika aku harus meluluhlantakan, maka separuh tubuhku akan melemas di sela janji yang telah terparut oleh waktu

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

aku selalu kembali menelan hal yang sama

Jika ini adalah sebuah lembah suram yang penuh liku, maka aku saa tini kembali menempati ruang kelam ini.

Tuhan mungkin lebih tau, bahwa aku memang pantas selalu menyelami kegelapan itu.

Tuhan mungkin lebih mengerti, bahwa kesuraman yang penuh liku adalah tempat yang layak untuk aku.

Gadis kecil, dengan jari-jari lentik yang mungil, menegadahkan tangan yang ternoda setara dengan tinggi muka

Butiran kecil bening mulai menghiasi pipi, mendongakkan kepala hingga akhirnya dia sadar, perih-perih itu menjadi kawan abadi. Serpihan luka terbiasa menjadi lantunan nada indah di semai hari-harinya.

Gadis kecil dengan seonggok hati yang pura-pura tegar, terjatuh di labirin lorong yang curam, itu adalah aku !!

Ya Allah,

Kenapa aku kau ijinkan mengenal keagungannya, jika engkau tau bahwa aku tak berhak untuknya

Kenapa kau beri aku waktu, untuk menikmati indahnya, jika ternyata aku tau, aku bukan untuknya

Kenapa engkau anugrahi cinta dan luka, kalau pada akhirnya segala puji dan puja adalah sia-sia

Kenapa tak kau pertemukan aku saja langsung dengan sesuatu yang lebih berhak untukku?

Kenapa aku harus melewati segala setapak-setapak yang tak pernah bisa ku mengerti

Apakah, segala yang pernah terlewatkan, dapat kulepaskan?

Ya allah,

Dunia mmebuatku untuk mampu mengukir kenangan.

Tapi kenapa harus menjadi pertanyan ’kenapa’ dan ’ selalu’ ??

Sedang aku tau, pundakku saja tak sanggup memikul beban seberat ini. . . .

Bila aku dapat meminta kembali, ijinkan aku di beri pundak yang kuat tanpa kau kurangi beban derita untukku.

Jauh dilain tempat,

Lihat Tuhan, lihatlah. . . .

Dia..

Dia, kau datangkan mengisi kekosongan dalam ruangan yang penuh sisa-sisa luka

Dia, kau hadirkan seperti penuh rencana

Dan dia, coba lihat Tuhan. . .

Dia, begitu menyayangiku, aku suka cara dia menyayangiku

Dia, begitu tulus menyelipkan sepercik bahagia.

Aku takut Tuhan, teramat takut!

Keputusan seperti apa yang harus aku derukan tanpa ada perih yang tertinggal

Tuhan, sungguh, aku tak mau disakiti. Lebih-lebih aku tak mampu menyakiti

Kali ini, aku mau ini adalah pilihanmu, Tuhan. . .

Aku ikhlas menerimanya

Aku tak ingin mengedepankan nafsuku, atau bahkan egoku

Aku mau, hanya engkau Tuhan yang memilihkan jalanku.

Aku mohon Tuhan, tolong jangan kau ikut andilkan keputusan syaitan

Beri kepastian yang nyata di telapak kakiku, agar jejakku adalah restuMU

Tidak ada komentar:

menemukanmu dalam terlambat

Sudahlah Virgo Aku sudah keliru, Aku tak mau dugaanku menjadi salahpaham, menanggapi ucapanmu yg semestinya hanyalah ilusi untuk ku....