Kamis, 13 Januari 2011

God, listen 2

Tuhan . . .

Aku kembali bersimpuh dengan haru biru, aku meirndu atas peluk dan belaiMu. . .

Tuhan. . .

Aku hambaMu yang kerdil penuh dengan tinta dosa, sarat dengan kenistaan datang merunduk mengharap jalanMu.

Tuhan, aku menyayangi semua orang yang meyayangiku, orang tuaku, keluargaku, calon pendamping hidupku, kawan-kawanku, lingkungan yang baikku, pekerjaanku, atasanku, ilmu yang aku pelajari, kampusku, dan cita-citaku. Bahkan aku menyayangi rasulMu sebab aku yakin beliau juga menyayangiku

Tuhan, jika bukan kepadamu lalu kepada siapa lagi aku memelas dan meminta?

Tuhan, masihkah kau ingat? Tentang kedua telapak tangan yang menengadah setinggi raut muka? Telapak tangan yang meminta penuh harap dengan sesekali terbasuh air mata. Itu adalah telapak tanganku, Tuhan. . .

Telapak tangan seorang anak manusia yang penuh hina, jika kau mengingatnya Tuhan, tentu kau akan ingat bahwa doa siang malamku, bahwa panjatanku, tidaklah meminta seketika intan permata jatuh berjibum di hadapku, tidaklah meminta emas bermotif berlian seketika ada digenggamanku, tidak Tuhan. . tidak seperti itu

Aku cukup meminta bahagia yang bertadah dari restuMu. Itu saja, cukup.

Bahagiaku bukan dari berapa uang yang aku punya, bahagiaku bukan dari seperti apa yang kudapat, bahagiaku bukan semata dari berapa karat emas yang kuharap. Aku bahagia, jika aku bisa membahagiakan orang-orang yang berharap bahagia bersama ku. . .

Tuhan, coba ingatlah. . . malam-malam itu ketika aku tertatih dalam sendiriku, ketika aku menjalani hidupku dengan terseok hingga aku mampu sedikit demi sedikit melangkah, malam sunyi, aku terisak ditengah hitam kelam. Aku belajar menjadi kekasihMu, aku belajar mencari makna hidupku. Aku belajar menjadi manusia yang lebih kuat, sabar dan tegar.

Lalu, pasti kau juga masih ingat Tuhan, tentang syair-syair doaku.

Bahwa aku akan ikhlas mencintai orang yang menjadi pilihanmu. Dia, lelaki itu, pria itu, atau bahkan entah siapapun, aku lelah memilih, dan aku sudah enggan dipilih. Aku bukan pilihan, mereka semua tentu bukan yang kupilih. Tapi pastilah engkau memilihkan satu dari mereka untuk ku. Dan aku wajib mencintainya sepenuh hati hidup dan matiku. Karena aku tau, kau lebih tau, dari tulang rusuk siapa aku terbuat!

Jika aku tak mampu berjalan dengan pilihanmu, tentu kau akan mengatur dengan segenap caraMu, bahwa aku kelak akan mencintainya.

Tuhan, syair doa itu, tentu kau ingat. Begitupun dengan rintihku, tentang. . .

Bagaimana aku harus belajar mencintai pilihanMu. . .??

Tapi aku tau, Tuhan. . . kau mengajariku bagaimana mencinta pilihanMu dengan ikhlas, bagaimana menerima cinta seseorang dengan ketulusan. Meski kau berencana ini adalah awal dari pembelajaranku. Maka melalui siapapun mereka, aku akan terus menanamkan cara itu.

Tuhan, malam ini, aku berbicara kepadaMu, dengan mata bebinar, dengan bahagia yang membuncah, dengan haru yang membeku.

Engkau,, benar-benar menyayangiku Tuhan. Aku bersyukur sekali kau mendengar syair-syair sendu dari mulut mungil seorang gadis kerdil ini.

Ternyata kau anugrahiku segumpal rasa cinta untuk orang yang kau pilihkan untukku. Rupanya aku masih mampu menerima orang yang menaruh cinta kasihnya untukku, padahal di awal aku tau Tuhan, aku takkan mampu itu.

Entah darimana dan bagaimana aku bisa meruntuh. Yang aku tau, kini aku benar-benar menyayangi dia. bisikanMu, tentang semestinya aku harus bertahan, tentang seharusnya aku tetap tinggal, tentang selayaknya aku tetap mendampingi dengan tetap terus belajar ikhlas, bisikanMu itu Tuhan, telah menunjukan aku, bahwa anugrah yang kau beri akan datang tepat dan indah pada waktunya.

Aku merasakan, anugrah dan rahmatMu itu Tuhan, maka jangan jadikan aku adalah golongan orang-orang yang tidak pandai bersyukur, orang-orang yang menjadi lupa setelah keindahannya menjadi nyata.

Tapi Tuhan, coba lihat kedua bola mataku. Coba amati guratan garis bibirku yang bergemetar menahan ketakutan yang dahsyat.

Aku, takut, Tuhan. ..

Aku takuut teramat takut. . .

Kristal mataku jatuh menelusuri pipi, hidungku memerah

Ah, Tuhan kau tentu tau, aku yakin kau tau.

Aku takut dicampakkan!

Aku takut tak dianggap berarti lagi, ketika aku sudah mulai meluluh karena cintanya.

Aku takut tak lagi dijaga seperti dulu, ketika aku masih tak menghiraukan kehadirannya.

Aku takut dia merasa berhenti menggebu mencintaiku ketika dia tahu, bahwa aku telah membalasnya.

Aku takut dia tak lagi mendengar suaraku ketika dia tahu bahwa aku telah menginginkan dia bersuara.

Tuhan, ketakutan itu makin menaik hendak memecahkan ubun-ubunku.

Apa aku sedang takut kecewa kesekian kalinya? Apa aku sedang merasa tak ingin kehilangan dia? Apa aku sedang merasa takut akan sesuatu keberubahan dia terhadapku? Ataukah ini pertanda aku kini benar-benar mencintainya dan ingin mengakhiri segala pencarianku terhadap sesuatu selain dia?

Ternyata bukan salah satu dari semuanya jawaban yang benar. Tapi, semua jawaban itu memang benar ada padaku semuanya, Tuhan. . .

Sayup-sayup kembali kudengar lantunan angin berdesir, itukah kirimanMu Tuhan? Tentang bahwa aku harus kuat, bahwa aku harus tegar.

Aku serahkan padaMu, Tuhan. Jika memang benar dia adalah pilihan akhirMu untukku. Pilihan dimana aku menjalaninya dengan penuh usaha.

Padahal semestinya engkau sangatlah tahu Tuhan, bahwa bukan begitu yang kuinginkan, bukan seperti itu yang kumau. Tapi engkau memberikan energi yang kuat untuk mendorongku agar aku tetap berusaha menerima segala bentuk kurang dan lebihnya.

Tuhan, jika suaramu mampu diperdengarkan olehnya daripada aku, maka kutitipkan desahku yang menyerupai rintihan malam ini. Bahwa sesungguhnya, aku tak pernah mengukur seberapa banyak kelebihannya. Seberapa besar rasa yang harus kubanggakan darinya. Tapi,, aku menyayanginya berawal dari kekurangannya, aku mengasihi benar-benar dari belai tulus jemariku, aku mencintai berangkat dari ketidakmampuannya untuk sesempurna yang kumau. Hingga sekarang, aku tak mempermasalahkan berapa rupiah yang tersimpan, berapa banyak kepingan yg dia punya, berapa besar pangkatnya.

Aku sekedar ingin dia tetap menjaga kualitas dia mencintaiku, tetap merindukanku sama seperti dia merindukanku saat aku tak pernah merindukannya. Dan ingin tau, bahwa dia tak pernah ragu denganku.

Tuhan, salahkah aku jika aku berharap begitu? Berharap tentang aku yang tak mau lagi merasa terjatuh?

Pantaskah aku bahagia, Tuhan? Masihkah kau selipkan sisa bahagia itu untuk kupungut sekedar kurawat?

Kenapa banyak sekali yang berjibum dipikiranku Tuhan, apakah aku sedang dilanda cemburu?

Arrgh Tuhan, rasanya tidak sempurna jika aku tak bercerita lantang kepadaMu. Meski aku tau, kau selalu lebih tau dahulu.

Tuhanku, aku adalah aku, aku adalah ciptaanMu yang berbeda dari satu yang lainnya. Aku bukan mereka, aku bukan dia, aku bukan orang-orang yang harus disamakan dengan siapapun, termasuk dia:masa lalunya. Dan bukankah aku ini tidak sekedar temannya, Tuhan? Aku ini adalah kirimanMu untuk dia, seperti memang keyakinan dia itu. Tapi Tuhan, kenapa aku selalu diperlakukan sama dengan teman-temannya? Aku punya hati, aku punya pikiran. Aku orang yang pemikir teramat dalam. Aku orang yang sensitif dan aku ini sangat peka.

Aku ingat Tuhan, dia pernah berkata : “ ..memang seperti itu orangnya, tapi enak, bisa diajak bercanda-bercandaan yang lebih. seperti teman sendiri . .”

Dia bahagia dengan begitu Tuhan, adakah dia tidak bahagia dengan caraku? Aku tidak menyukai kekerasan, Tuhan, aku tidak suka di hardik, aku tidak suka dibentak dengan nada tinggi. Aku tidak suka dikasar. Aku ingin selalu diberi kelembutan, aku suka kasih sayang, aku suka lemah lembut. Bukankah itu semua indah, Tuhan? Tapi haruskah aku menjadi sosok kasar dan melatih jiwaku jauh dari keindahan itu, demi untuk membahagiakan dia dengan cara sama seperti perlakuannya dengan masa lalunya?

Jika itu adalah syarat dari sebuah cinta ikhlas, aku akan berusaha untuk itu Tuhan, meski itu bertolak dari perangaiku.

Lalu, bantu aku untuk menjadi orang yang kasar, Tuhan. Bantu aku untuk menjadi keras agar mampu membuat dia senang bisa memperlakukan aku sama dengan masa lalunya, yaitu: bercanda dan bergurau kelewat batas!

Aku tidak meminta banyak untuk semua, Tuhan,, ,

cukup ingin menjadi halal buat dia. untuk mengikuti sunah RasulMu Dan aku tak mau punya saingan oleh orang yg datang sebelum atau sesudah aku. Cukup aku Tuhan,.. .

Tidak ada komentar:

menemukanmu dalam terlambat

Sudahlah Virgo Aku sudah keliru, Aku tak mau dugaanku menjadi salahpaham, menanggapi ucapanmu yg semestinya hanyalah ilusi untuk ku....