Dan akhirnya tiba suatu masa titik jemu menjadi biasa
Berdiri tegak menatap hamparan langit luas sekaligus menantang
awan yang mendung
Membuatku memilih jalan panjang yang berliku bersamamu
Banyak orang menghabiskan waktu menjadi para pecinta pria di
meja pertaruhan.
Banyak orang yang menghabiskan waktu digemerlap malam dengan
penuh suka cita
Tapi aku ingin habis waktuku disisimu, sayangku.
Bicara tentang sayap-sayap berdarahku yang masih terlewati untuk
kau mengerti.
Atau tentang perjalanan hidupmu yang kau geluti dengan
tetesan-tetesan peluh.
Di luar sana, beribu orang mati bunuh diri karena patah hati.
Ada banyak anak-anak afrika mati terkapar karena lapar.
Tapi aku ingin mati disampingmu, cintaku.
Mengakhiri hembusan nafas dengan kelelahan yang berkepanjangan
ini setelah kita bosan hidup dan selalu bertanya tentang tujuan dan hakikat
manusia hidup yang tak satu iblis kerdilpun tau.
Sayangku, adakah kau masih membelaiku semesra malam itu? Ketika kau
sentuh, ku mendekat, kau dekap lebih mesra, lebih dekat!
Apakah kau masih menggenggam tanganku sekarang, seerat tempo
lalu? Dimana hangatnya mampu meleburku dari lautan emosi.
Sesungguhnya kita berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta dan
rasa.
Hingga lingkaran jam tak habis bersama waktu, hingga kulit kita
berkeriput dan helai demi helai putih mewarnai rambut.
Kita masih sama dalam cinta dan rasa…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar