mengenal arti kecil sesosok Penyair adalah orang yang tidak bahagia,karena betapa pun tinggi jiwa mereka,mereka tetap diselubungi airmata.dan mengemukakan sebuah puisi sendu dalam alunan bunga bakung.Ia adalah lagu yang muncul daripada luka yang berdarah atau mulut yang tersenyum.
Kemudian kau menyebarnya memenuhi setiap sudut hatiku yang hampa
Kau melambungkan aku dengan aroma bunga itu
Lalu kau pergi,,
Tentunya meninggalkan rimbunan sampah kembang yang masih tercecer
Di sisi-sisi hatiku yang membeku, kaku..
Ketika aku tersadar rupanya aku teraniaya sepi,
Terbungkam dengan pakaian pengantin kain satin
Diantara bunga-bunga itu,,
Ku tatap sekelilingku, tak ada sesiapa
Bahkan pengantin pria..Tiada..!!
Lagi-lagi hanya sampah bunga
Itu saja!!!!!!
Senin, 22 Juni 2009
Pagi ini aku sudah sampai di tempat gawe.
Huftt.. pagi sekali, hhahahha gak biasanya begitu!
Naya.. Naya.. selalu datang terlambat setengah jam dari jam masuk.
Hoah, masih mengantuk rupanya. Aku bangun pagi-pagi untuk sholat terus bobo lagi.
Huuu dasar!!!!
Kemarin ada rapat, aku nggak ikutan, ada ujian dikampus, jadi takut telat.
Isinya.. kasih peringatan gitu, kalau sekarang lebih ketat, si bos mau menyaring nih karyawannya yang berkualitas dan mampu disiplin. Hikz hikz... Naya malas sekali unutk disiplin
heum!! tapi aku harus bisa......
yah, termasuk absensi. Aku selalu masuk telat telat telat!!
rumah Naya jauuuuuuhhhhh!!! Dasar tukang ngelesss!!
Aku sekarang harus bangun pagi-pagi banget, menyadari kalau rumahnya jauh, jadinya harus lebih awal bangunnya.
Sholat, beres-beres, mandi, terus berangkat! Makannya kapan??
Weleh, Nayaaami….. perut mulu yang dipikir.
Wakakakkaa… secara, Aku kan kuyus! Pengen endutz dikit nuih. Jadinya makan yang buanyak….
Capek deh,,, kemana-mana selalu makan nomer satu!!
Hehe, pokoknya kalau masalah makan gampang atuh, toh sebelah warugnnya masih tetep nongkrong disitu. Tingal pesen saja, :p
( kembali ke Jalan yang benar ah )
Nayami harus pertahanin disiplin! Dan mulai hidup teratur. Nggak perlu mikir yang nggak penting!
Yah Aku sadar kok, kalau aku didepak dari sini gara-gara nggak disiplin. Hanya karena sering telat, pasti aku kelimpungan buat biaya kuliah ni! Hihhiiihihi
Paling tidak, ada enaknya juga berangkat pagi-pagi begini.
Udara masih segar, masih ngga terlalu macet dan ramai.
Aku jadi bisa menciptakan inspirasi hidup untuk kedepan.hahahhahha
Naya muleee dweh… ngayal!
Eh, tapi emang bener kok, lumayan gitu perjalan kerumah sampai tempat gawe.
Dengan melihat jalanan yang masih nggak begitu padat, Aku bisa merenung setiap yang terjadi dengan Aku. Aku jadi bisa berinspirasi untuk kedepan. Pokoknya top cerlah kalau pagi-pagi sudah mengasah otak.
Tapi bdw, hari ini masih ada ujian! Statistika!!
Hufftt……………….
Harus bisa! Naya harus bisa!
Tak apalah, berusaha dulu. Itu lebh baik
Aku ingat tadi juga nih. Pagi tadi aku seangkotan bareng sama tukang penjual Koran.
Orangnya agak tambun, berkulit coklat, berambut cepak agak ikal, memakai baju yang sedikit lusuh. Dia bercelana pendek, dan membawa tongkat di tngan kanannya, sedangkan tangan kirinya menggendong setumpuk Koran-koran baru. Kulihat dari berbagai media cetak.
Oh my God… ternyata dia tidak bisa melihat! Matanya sipit. Entah tidak bisa melihat atau bisa melihat tapi hanya sedikit?!
Naluriku tergetar nih.
Aku jadi malu, beberapa hari kemarin aku adalah naya yang suka telat! Ngga disiplin!
Ternyata ada penjual Koran yang kesulitan buat mnejualkan dagangannya, tapi masih keukeuh pagi-pagi berangkat. Mungkinkah hanya untuk sesuap nasi?
Aku beranikan diri bertanya..
“kalau Koran yang ini berapa Pak?”
“apa itu Nak?”
“Suara Merdeka Pak..”
“Dua ribu sajaNak”
“pagi-pagi sekali sudah menjualnya, memang akan dikirim ke Pelanggan atau Bapak harus menjualnya sendiri?”
“Ah tidak pakai pelanggan, Nak. Bapak mnejualnya di daerah terminal saja.”
“Oh.. pasti setiap hari laku banyak ya Pak?”
“yah, ngga mesti kok Nak. Kadang-kadang Bapak juga rugi”
“rugi? Rugi bagaimana Pak?”
“kadang bapak malah ditipu, karena mereka bilang mengambil Koran jenis ini, padahal tidak. Soalnya setiap media cetaknya harganya berbeda Nak..Bapak tidak bisa membaca”
“Oh begitu ya, Pak”
“yasudah, bapak hati-hati saja ya. Ini saya ambil Suara Merdekanya Satu, berapa Pak, 2000 yah? Ini kembaliannya buat bapak saja. Saya turun dulu ya Pak, sudah sampai. Oh, iya bapak nggak usah bayar angkotnya, sudah sama saya sekalian!”
“Terimakasih Nak, semoga kebaikan kamu dibalas yang di Atas!”
“Amin..”
Naya turun, masih terbungkam. Sedikit melelehkan air mata.
Eye linernya jadi sedikit bleber.
Ah.. masih ada juga ya, orang tua yang kuat begitu.
Aku jadi ingat Ayah.
Seandainya Ayahku yang begitu………..
Pasti rasanya perih sekali melihatnya!
Naya menyebrang perempatan traffic light.
Berjalan beberapa menit kemudian telah sampai di tempat gawe..
Wah………. Kasih tepuk tangan ah buat Naya..
Suara itu mengagetkan lamunan Naya.
Sial! Mas Lutfi sama Heru ternyata.
Ada apa ini? Tanya naya
Harusnya yang ada apa ini kamu, Nay..
Tumben kamu ngga telat!
Wakakakakakaaa,, hebat hebat..
Aduuhhh,, apaan sih pekik Naya,
Bikin malu saja, ketahuan dunk kalau aku itu emang suka telat!
Fiiuuhhtt! Naya sudah siap mule untuk bekerja
Naya tersenyum. Seneng juga bisa bangun pagi dan menghadapi hari esok dengan ceria.