Kamis, 22 Oktober 2009

kenangan pergi

jemariku menari di atas balok-balok tiap huruf dan angka

satu kenangan silam mengembalikan suara hati lampau bergejolak, perasaan yang ku buang tanpa rencana, tanpa ku tahu ternyata hilang bersamaan hadirnya sosok kukuhnya seraut pria dewasa..

detik-detik kemarin tak ku sisakan walau sekedar mampu ku nikmati kesemuan dari kekosongan yang membelai rasaku.

entah mengapa, tak ku temukan lagi seberkas kisah lalu, aku simpan di tempat tersendiri, kukunci, saat aku kembali menyerukan untuk memberi waktu ku buang, ternyata bongkahan kisahnya lenyap menghilang

aku terkejut!!

berdiri di mulut pintu usang, di sana tak ada serpihannya secuil kukupun!

aku bangkit menjauhi ruang hampa itu, kubakar dengan api yang membara, melumat segala bala-bala yang mulai rapuh tergulung waktu yg lama ku biarkan, ku acuhkan.

sesaat sadarku menggerakkan kerlip mataku, ada butiran kecil bening laksana kristal gelas dari kota lebanon. kelopakku berair penuh haru

seseorang yang ku simpan hingga melapuk, tanpa sempat berakhir dalam peluk. sekejap akan menjadi pengantin pria dengan bunga cinta yang terbang di pelataran hatinya..

nafasku panjang, membuatku yakin bukan aku pengantin wanitanya.

tapi aku bahagia, sesaat menikmati kisah kasih gadis kecil, dengan rona pipi merah jambu sempat bersandar di dada bidang lelaki kecil, kini.. tak kecil lagi

esok dia seketika tampak menjadi dewasa duduk di pelaminan

aku tersenyum dengan sejuta arti yang tak pernah bisa habis dimengerti oleh berbagai sang pengamat, mungkin hanya kata di satu rasa yang mampu terdengar sendu.

'aku tak berhak lagi, walau sekedar ku simpan dan kukucilkan. biar prasasti abu kenangan itu beterbangan ke awan, menyampaikan salam, bahwa kenanganku telah berhenti dan ku biarkan mati'

doaku menyertai senyum bahagiamu, virgo....


Minggu, 13 September 2009

mimpi yang terbunuh

satu harapan di hancurkan dua kali ku bermimpi di bunuhnya.

aku berdiri di muka jendela ruangan yang tak pernah habis di mengerti

di detik, di menit memukul waktu di jam dan hari

beberapa saat aku mulai menyentuh jemu dalam jenuh

aku bertolak dari beranda jendela itu

beranjak pergi menjauh..

dan berjalan melangkah semakin ke depan, mencoba tak menilik kebelakang yang telah sarat dengan kemunafikan.

sesaat angin mendesirkan sesuara melengking memanggilku,

menawarkan aku dalam peluknya, dekapnya, walau aku masih terus bersetapak di jejak ku

aku berhenti, kemudian terlena pada alunan suara itu.

dan ketika aku berayun mundur dengan hati yang bungah, jendela itu di tutupnya kembali..

ah, hanya ilusi rupanya..

beberapa saat aku kembali berhenti, menanti ruang itu terbuka meski celahnya takkan mungkin dapat ku salami

suara itu, menggelitik dinding kalbu menembus pagar jiwa yang sekokoh karang lautan.

hatiku luluh!!

jendelanya kembali masih tertutup

di balik itu, getaran suaranya menggema

hanya ventilasi kecil seolah di jadikan mengintaiku, apakah hadirku telah lenyap?

dan aku kembali jemu, seretan kaki ku tanpa bersuara

gerak yang ku ambil seribu langkah menyerbu rasa penat..

kini,, aku telah jauh. tak ingin berharap se titikpun di hancur leburkan, oleh denting suara di balik jendela dalam misteri

sesaat ku lihat kebelakang...

masih di balik jendela itu, suaranya nyaring terkikik bergelak tawa menatap hal bodoh yang kulakukan pada perencanaanya...

teramat sempurnaaaaaa!!!

Rabu, 02 September 2009

bunga alhieeya lagi dan lagi

sebelum semua di pertanya, aku telah menggali timbunan jawaban yang belum terungkap.

kini, esok takkan pernah ada lagi cerita bunga alhieeya bercumbu dengan bayang-bayang sosok pria dewasa. meski hanya mimpi, bunga alhieeya takkan mampu, takkan berani.

bukan kepada bunga alhieeya pupuk cinta ditebar, bukan dengan bunga alhieeya pula benih rindu ditancap

entah terhadap sesiapa wanita gerangan yang berbahagia berlimpah sanggup menangkap secuil hatinya.

bunga alhieeya melayu sebelum kuncup, dia gugur bersama derasnya kalimat syahdu rindu yang tertahan di pucuk ulu hati.

periiiiihhhh...

lebih baik begini, bunga alhieeya mati di musim kemarau panjang.

gersang!

sesekali tak mengenal arti mencinta, sesekali berhenti dalam harap.

pupusss!

dan di sebrang kencana jingga, bunga alhieeya takkan meratapi sisi kalbunya yang kembali hampa, LARAA..

tanpa sesiapa,

tanpa dia,

tanpa pengantin pria,

dan kembali tanpa rasa...

itulah pesonanya..

bunga alhieeya kembali tanpa nada

Selasa, 01 September 2009

jangan kau lukiskan senja soremu pada malam gelapku

aku terlanjur membunuh mimpiku di pagi hari, aku terlanjur tak memberi arti pada warna pelangi senja.

semua luluh kuhancurkan seiring jejak yang kau buang di kisah klasik kita

belai angin pagi berdesir menghantarkan lagu rindu yang mulai kadaluarsa, rindu yang termakan oleh malam-malam temaram

sapa yang mengalun mengiringi irama piano, tak lebih seperti mimpi di pagiku. takkan terjadi!!

ku lihat, kau ingin berkelana menari menuju puncak hati dari seuntai jiwa yang menganga luka!

ku tatap gerak pastimu, semakin ku lekatkan jarak antara pandang dan rasa, maka tertampak kau semakin membesit mengemasi segala bintang yang telah kau tebar.

tebar di sekujur badan langit malamku..

kemudian kembali ku berlari tak ingin mencium aromamu, aroma mewangi yang membiusku dalam sekejap

dan seketika membuat bengis wajahku yang setara menemu kematian, berubah menjadi seulas senyum..

saat senyum itu belum berakhir, kedipku menyadarkan,

senja sore itu telah lenyap, bersamaan hadirnya malamku yang setia pada kelam...

hingga pagi menjemput tak ku temukan sapa itu, bahkan alunan piano itu ----

Senin, 31 Agustus 2009

waktu bertanya?

Lingkaran

Tapi apakah jam mukim di dalam lingkaran?

Kalaupun tak

Apakah pernah jam sebentar singgah

Lalu sejenak diam di tengah, katanya

Aku, ketika itu, mestinya bilang “tidak!”

Lalu beranjak bangkit dan perlahan mulai bergegas

Meninggalkanya, membiarkan ia termangu

Atau melayang sewajah dengan daun

Ketika lepas dari tangkainya dan luruh

Serta dengan susah payah bkin ruang di sela

Larik

Detik

Tetapi, sungguh bukan karena tak tega,

Barangkali lebih lantran tolol,

Toh aku merengkuhnya dalam dekap,

Menjanjikannya lelap dalam peluk,

Sampai tiba-tiba ia berteriak, “Engkau”

Ternyata memang engkaulah jam itu!

Tipu daya itu!

Kelap dan kecewa ia menguap

Menyatu dengan udara kosong

Waktu!

Hai..

“engkaulah yang memanggilku?”

Tanya jam

Aku menggeleng

Aku terus merangkai bunga

Empat puluh tiga peri menari

Dua puluh satu di pundak kiri

21 di pundak kanan

Dan, satu paling jelita, di tengkuk

“engkau! Katakan padaku,

Memang engkau yang memanggilku”

Ratap jam

Sungguh,, tak pernah aku memanggilnya

…….

Tak pernah

Catatan,,

Jam mati

Di hati,,

Di hari,,

Di sepi,,

Sampai kini…

Sunyi, bukan?

Dan ketika jam perlahan

Membenam semua harapan

Keperpotongan garis tangan

Kita pun bernama hampa

Kosong!!

Tik!

Luruh

Tak terbasuh

Rubuh

Di jam lusuh

Lihat aku

Termangu

Dengan ragu layu

Setusuk Satu di kayu menggebu

MeRindu!!!

menemukanmu dalam terlambat

Sudahlah Virgo Aku sudah keliru, Aku tak mau dugaanku menjadi salahpaham, menanggapi ucapanmu yg semestinya hanyalah ilusi untuk ku....